Seksi ini akan
mempertimbangkan memberi ketika anda ada dalam suatu periode dimana uang tidak
ada atau kurang dan cobaan datang untuk menghentikan pemberian tersebut – pasti
banyak orang mengalami hal ini dalam suatu masa dalam kehidupan mereka. Seksi
ini akan mendorong anda untuk tarus memberi dalam keadaan yang sulit dan tetap
melihat kepada contoh-contoh alkitab tentang orang-orang yang memberi dalam
masa sulit mereka, anda akan sampai pada kesimmpulan bahwa satu waktu yang anda
butuhkan memberi adalah ketika waktu itu adalah buruk.
Alkitab ini
memberi banyak contoh tentang orang yang menghadapi suatu situasi yang sangat
keras dan harus membuat suatu keputusan yang sulit tentang apakah mereka
memberi atau tidak (pilihan yang sama dari kebanyakan kita yang harus kita buat
pada suatu saat dalam kehidupan kita). Kapansaja orang memilih untuk memberi
mereka taat dan berhak atas imbalan dan alkitab menunjukkan ada beberapa tempat
tentang orang yang memberi pada masa sulit dan menuai berkat-berkat.
Contoh pertama
adalah Abraham yang menghadapi pengambilan keputusan pelit tentang memberi
sesuatu yang lebih mahal daripada uang dan itu adalah putra tunggalnya Ishak.
Padahal sebelumnya, Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi
bapa banyak bangsa (Kejadian 17:3), dan setelah mendapatkan seorang anak dari
pembantunya Hagar, dengan mujizat istrinya Sarah melahirkan seorang Putra yang
diberi nama ishak.
Dari kedua
anaknya ini (Ismael dan Ishak), Allah berkata kepada Abraham dalam Kejadian
21:12 bahwa melalui Ishaklah keturunanya akan diberkati dan dibangkitkan, namun
dalam Kejadian 22:1, Allah menguji Abraham dan meminta supaya Ishak
dipersembahkan. Abraham menghadapi suatu situasi yang sulit denga memberikan
Putranya sebagai korban persembahan dan itu tidak membuat dia surut tetapi dia
tetap menaati Allah dan memilih untuk memberi dan sebagai hasilnya Allah
menghormati pemberiannya itu dan kembali menyerahkan ishak kepada Abraham – itu
suatu kenyataan bagi Abraham untuk memberikan persembahan besar pada satu
situasi yang sangat sulit.
Hal luar biasa
dan hebat yang terjadi kepada Abraham adalah bahwa keputusannya untuk menjadi
pemberi turun ke anakNya Ishak dan dialah orang berikutnya yang dipilih untuk
memberi di masa sulit – cerita ini tertulis dalam Kejadian Pasal 26. ayat 1
menunjukkan bahwa terjadi kelaparan di tanah itu tetapi Allah berbicara kepada
Ishak dan bercerita kepadanya untuk tetap tinggal di tanah itu dan dia akan
diberkati – Ishak menantang pencobaan itu dengan pergi ke Mesir dan tinggal di
sana di mana dia ditempatkan.
IDalam ayat 12
Ishak menghadapi suatu pilihan dalam suatu waktu kelaparan apakah dia akan
menahan atau menabur benihnya untuk mengharapkan panen di waktu akan datang
dengan cepat :- pilihan tidak diragukan adalah untuk menahan benih itu. Ishak
memilih untuk membuktikan bahwa Allahnya adalah hidup dan menabur benihnya di
waktu kelaparan dan menuai seratus kali ganti panen dan ayat 13 memperlihatkan
bahwa tidak ada henti-hentinya waktu panen – kekayaan Ishak bertambah terus dan
meningkat sehingga dia menjadi begitu kaya sehingga menimbulkan kecumburuan
bagi orang Filistin. Barangkali anda menghadapi bahaya kelaparan dalam keuangan
anda, seperti ishak anda mempunyai benah yang dapat anda taburkan atau tahan.
Ishak memilih untuk menabur benihnya dan memenagkan pertempuran atas
keadaannya.
Contoh ketiga
tentang orang yang memberi dalam situasi yang benar-benar sulit adalah janda di
Zarfat yang melayani Elia, manusia Allah –cerita ini tertulis dalam 1 Raja
pasal 17. Ayat 12 menunjukkan bahwa dia dan anaknya ada dalam kelaparan dan
mereka telah pasrah untuk mati – satu-atunya yang mereka miliki adalah segenggam
tepung dan sedikit minyak. Elia melakukan sesuatu yang mustahil meminta kepada
wanita yang kelaparan itu makanan yang sedikit dan sisa itu memberikannya
kepada Elia dalam bentuk roti – yang merupakan suatu pilihan yang sangat sulit
bagi janda itu pada saat seperti itu.
Elia
menyampaikan firman Tuhan kepada janda itu bahwa jika dia menaati dan
memberikan kepada Elia makanan itu maka persediaannya yang sedikit akan tepung
dan minyak itu tidak akan habis tidak peduli berapa banyak yang dia akan
pergunakan. Karena dia menaati firman Tuhan dan memilih untuk memberi, dia
menerima kembali berkat-berkay berlipat ganda dan gudang makanannya tidak
pernah kosong. Walaupun dia menghadapi situasi yang sangat sulit dia memilih
menjadi pemberi dan menerima suatu mujizat dalam pengembalian atau
balasannya..
Setelah melihat
janda di dalam Perjanjian Lama yang memberi dalam situasi yang sangat sulit
kita juga dapat belajar dari Perjanjian Naru dan melihat janda lainnya yang
memberi dalam situasi sulit dan cerita ini berhubungan dengan Lukas 21:1-4.
ketika uang yang diberikan ke dalam kotak persembahan di bait Allah, janda
miskin itu menyerahkan semua yang dia miliki itu untuk hidupnya ke dalam kotak
persembahan – satu fakta yang menangkap
mata Putra Allah.
Kasus itu dapat
terjadi bahwa dia tidak peduli bahwa ada seseorang yang mengetahui berapa
banyakj yang dia berikan – biarkanlah yesus sendiri yang melihat secara nyata
melihat dia memberi persembahan yang lebih banyak, pasti dia tidak pernah
menyangka dan tidak mengharapkan bahwa apa yang dia lakukan dengan
persembahannya itu tercatat di dalam Alitab sampai dengan kekekalan.
Sebagaimana Yesus mengetahui situasi sulit yang dihadapi oleh janda miskin
tersebut dan berketetapan hati untuk memberikan semua miliknya itu sebagai
persembahan, Yesus juga tahu tentang keuangan dan situasi keuangan kamu dan
meminta kamu untuk mengambil keputusan untuk memberi dan pemberian kamu
akan menangkap mata sang tuan.
Terlalu banyak
orang Kristen memberikan alasan kuno bahwa mereka tidak sanggup memberikan
persepuluhan dan tanpa ragu berpikir bahwa kata-kata miskin ini akan membuat
dia bercukupan dan menjadi alasan yang kuat pada Hari penghakiman ketika Yesus
memandang cara mereka mengurus uang mereka yang tidak mendatangkan berkat itu.
Janda yang kelaparan di Zarfat memberi makanannya dan janda miskin meletakkan
semua yang dia miliki ke dalam kotak persembahan – anda pasti tidak dapat
menangkap dari mana atau yang mana dari kedua janda ini yang mengatakan bahwa
dia tidak sanggup memberi.
Jika ada
seseorang yang dapat bersembunyi di belakang argument tentang tidak mampu
melaksanakan pemberian maka kedua wanita ini lah yang sepantasnya berkata
begitu, tetapi mereka mengetahui lebih baik daripada memberikan argumentasi
tidak menghasilkan seperti itu dan mereka mendapatkan alasan untuk memberi dan
akhirnya menerima imbalannya. Bukankah nanti pada hari penghakiman, pemberian
kedua janda ini mengungkapkan banyak kebenaran “Kepenuhan Roh” dan “Injil
Sepenuh” orang percaya yang mengatakan bahwa semua hidup mereka mereka tidak
mampu memberikan perpuluhan.
Contoh terakhir
tentang pemberian dalam waktu sulit adalah orang percaya dari Gereja di
Makedonia yang memberikan korban sebagai persembahan kepada orang kudus yang
kelaparan di Yerusalem – sebagaimana tercatat dalam 2 Korintus 8:1-15. ayat 2
menunjukkan bahwa orang percaya ini tidak hanya memberi satu pemberian pokok di
tengah-tengah suasana yang “benar-benar sulit dan miskin” tetapi mereka juga
mempunyai sukacita penuh yang mengalir untuk melakukan hal itu – berapa sering
anda mendengar hal seperti sekarang ini! Lebih lagi, di tengah “kemiskinan
nyata sangat” yang mereka alami, ayat 3 menunjukkan bahwa mereka memberi bahkan
melampau kemampuan mereka memberi uang yang mereka tidak ketahui selain
daripada “saya tidak sanggup memberikan perpuluhan” yang merupakan sikap
kebanyak orang Kristen.
Jadi, contoh
dari Abraham, Isaac, janda di Zarfatt, Janda Miskin dan orang Makedonia yang
percaya semua memperlihatkan bahwa ketika mereka memlih untuk taat dan
memberikan kepada tuhan dalam situasi sulit yang mereka hadapi itu akan
membakar mujizat dalam situasi mereka. Mazmur 126:5 berkata,
'Mereka
yang menabur dalam air mata akan menuai dengan nyanyi sukacita. Mereka yang
keluar dengan berair mata, membawa benih untuk ditaburkan, akan kembali dengan
nyanyian sukacita, membawa panen bersama dia'.
Alkitab tidak
pernah berkata bahwa situasi keuangan yang sulit akan membebaskan anda dari
memberi, tetapi sebagai mana orang yang ditunjukkan dalam contoh di atas,
mereka menanam benih pada waktu buruk dan pikiran mereka berkata jangan
memberi, akhirnya mereka menuai kemenangan panen dengan meneratawakan si jahat.