32. Melepaskan Uang Melepaskan Sukacita

Bacalah Bagian Alkitab Ini
Lukas 9:23

Hafalkanlah Ayat Ini
Yohanes 17:13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.

Diskusikanlah Hal Ini
Sesuatu yang dapat mencegah kita dari mengenal sukacita telah lebih dahulu diketahui oleh Yesus

Lakukanlah dalam Minggu Ini
Bacalah tentang sukacita Yesus dalam Mazmur 45

Tugas Tertulis untuk Diploma
Tuliskan satu halaman tentang hubungan antara melepaskan uang dan melepaskan sukacita

Renungkanlah Ayat Ini, Kata demi Kata
Filipi 2:21

 

Dalam Yohanes 17:13 Yesus mengungkapkan bahwa barangsiapa mengikuti Yesus harus mengenal suatu kualitas sukacita yang tidak akan pernah dialami oleh orang bukan Kristen – disebut sukacita ilahi yang oleh Yesus sendiripun dialami, dan begitu juga para pengikut-Nya akan mengalaminya. Sementara orang bukan Kristen mungkin mengalami secara singkat, kebahagiaan yang dangkal, sedangkan orang Kristen mengalami suatu pengalaman yang mendalam, tak terlukiskan, sukacita tingkat ilahi.

Sayangnya, banyak orang Kristen tidak pernah mengalami sukacita seperti ini dalam kehidupan mereka dan sementara ini mungkin terjadi karena banyak faktor penyebab, yang pasti menahan uang dari Allah dan memilih tidak memberi akan mencegah sukacita ini yang dialami oleh Yesus tidak akan dilepaskan ke dalam kehidupan kita.

Seksi ini akan memberikan berbagai argumentasi bahwa untuk suatu konteks yang luas, jumlah uang yang kita lepaskan kepada Allah akan ditentukan oleh jumlah sukacita ilahi yang telah dilepaskan kepada kita. Kutipan nats Alkitab di bawah ini adalah firman dari Yesus yang akan menjadi pondasi teks untuk seksi ini; di sini, Yesus mengungkapkan bagaimana Dia melepaskan kehidupannya dan sukacitanya ke dalam hidup kita.

Merupakan sesuatu yang unik di dalam Alkitab bahwa bermacam bagian dari hal itu disebutkan dalam keempat injil sehingga Roh Kudus telah menempatkannya sebagai suatu penekanan khusus tentang itu.

Lukas 9:23-24 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.

Yesus berbicara tentang satu kecanduan paling besar yang memperbudak manusia dan itu adalah diri sendiri atau keakuan – orang-orang yang secara total terobsesi dengan mereka sendiri dan kehidupan mereka tidak memikirkan yang lain.

Yesus akan mengungkapkan dalam argumentasi bahwa semakin mementingkan diri sendiri kita, semakin sedikit kebahagiaan yang akan kita peroleh. Sebaliknya, semakin kita tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan memberi, semakin banyak sukacita yang akan kita alami dan merupakan awal untuk menemukan kedermawanan, sifat kasih dari Yesus akan dilepaskan bersama kita. Apakah tidak benar bahwa orang yang mementingkan diri sendiri adalah orang yang paling mudah diserang, gampang naik darah, cemas, obsesif, dan secara keseluruhan lebih tidak bahagia?

Sudah merupakan prinsip Kerajaan bahwa siapa yang secara total menghabiskan kepentingan diri sendiri dan terlalu mengutamakan kesenangan sendiri tidak akan pernah menemukan atau mengalami apa yang sesungguhnya mereka cari. Sayangnya, gaya hidup mementingkan diri sendiri ini dipertontonkan dalam kehidupan banyak orang yang terlalu sibuk untuk orang lain atau apapun juga selain untuk mereka sendiri dan kesenangan mereka sendiri.

Bagaimanapun juga, ini bukanlah hal baru; dari nats Alkitab di bawah ini yang dikutip dari Filipi 2:21, Paulus menekankan kecanduan untuk diri sendiri dan dalam 2 Timotius 3:1-2, Paulus memperingatkan bahwa salah satu tanda dari zaman akhir adalah orang-orang mencintai diri mereka sendiri.

Filipi 2:21 sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.

2 Timotius 3:1-2 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

(Adalah sangat menarik untuk dicatat bahwa dalam 2 Timotius 3:1-3; Paulus dengan jelas memberikan gambaran bahwa selama akhir zaman, akan terjadi sesuatu yang menyulitkan di bumi. Catat bahwa masalah sulit paling awal dalam daftarnya adalah bahwa orang-orang akan mencintai diri mereka sendiri dan dalam urutan kedua dalam daftarnya adalah orang-orang akan mencintai uang).

Apabila kita mengaplikasikan prinsip rohani ini ke dalam keuangan pribadi kita dapat melihat bagaimana orang-orang akan mempertahankan setiap rupiah yang mereka peroleh agar mendapatkan kebahagiaan sebanyak mungkin.

Tidak diragukan lagi, cengkeraman kepentingan diri sendiri yang dirancang atas orang-orang dan uang mereka terjadi secara besar-besaran – sebagai contoh, berapa banyak orang akan benar-benar sangat menyesal jika mereka kehilangan uang kertas Rp 100.000! Contoh lebih lanjut adalah bagaimana orang-orang akan berargumentasi, menjadi marah, mengumpat, berselisih dan berkelahi hanya karena sejumlah kecil uang; bukankah hal yang ajaib bila uang yang sedikit itu dapat menimbulkan suatu realksi yang sangat besar.

Kepentingan diri sendiri akan dipertontonkan dalam kehidupan keuangan pribadi kita apabila kita membelanjakan semua uang kita untuk kepentingan diri kita sendiri – cengkeraman dari kepentingan diri sendiri dapat dilepaskan apabila kita memilih menjadi seorang pemberi; ingatlah bagaimana Yesus berkata bahwa apabila kita mau mengikuti Dia kita harus menyangkal diri sendiri (Lukas 9:23). Orang yang mencintai uang dan berbicara setiap rupiah untuk diri mereka tidak akan pernah mengenal dan mengalami tingkat sukacita dan kepuasan yang orang lain yang suka memberi akan secara tetap nikmati.

Apabila kita memberikan uang kita untuk melepaskan sukacita kepada kehidupan orang-orang, tindakan itu akan membuat Allah melepaskan sukacita ke dalam hidup kita dan konsekuensinya tingkat sukacita kita akan ditingkatkan dan dinaikkan sebanding dengan tingkat pemberian kita.

Kaitan bersama antara memberi dan sukacita dapat dilihat dalam kutipan tiga nats alkitab di bawah ini, yang pertama:

1 Tawarikh 29:9 Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita.

1 Tawarikh 29:20 Kemudian berkatalah Daud kepada segenap jemaah itu: "Pujilah kiranya TUHAN, Allahmu!" Maka segenap jemaah itu memuji TUHAN, Allah nenek moyang mereka, kemudian mereka berlutut dan sujud kepada TUHAN dan kepada raja.

1 Tawarikh 29:22 Lalu mereka makan dan minum pada hari itu di hadapan TUHAN dengan sukacita yang besar, kemudian menyatakan untuk kedua kalinya Salomo, anak Daud, sebagai raja dan mengurapi dia bagi TUHAN sebagai raja dan Zadok sebagai imam.

Latar belakang peristiwa ini adalah persembahan dari anak-anak Israel untuk bait Allah Daud. Karena orang-orang itu memberikan persembahan yang banyak, hal itu menyebabkan lepasnya sukacita yang besar di antara umat Allah. Merupakan pemandangan yang penting melihat suatu jumlah yang besar, luar biasa, penuh sukacita, ketaatan dalam memberi persembahan; sukacita pemberian telah benar-benar dialami di antara mereka. Yang kedua:

Mazmur 126:5-6 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Mazmur dikenal karena kejujuran mereka dan di sini Pemazmur dengan akurat menjelaskan tentang kita dan pemberian kita. Mungkin sangat sulit bagi beberapa dari kita untuk menabur secara keuangan – sampai pada titik melakukannya dengan air mata. Bagaimanapun, memberi akan memimpin kepada penerimaan dan ketika anda akan memanen hasil tuaian anda itu akan membawa sukacita. Yang ketiga:

2 Korintus 8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

Memberi dapat menjadi hal yang sulit dalam waktu yang baik – apalagi dalam waktu yang sulit. Orang Kristen di Makedonia terdorong untuk memberi dalam kemiskinan mereka dan akhirnya mereka dilimpahi dengan sukacita yang besar.

 

Tutuplah dengan doa untuk kelompok orang yang belum terjangkau 

Berdoa bagi Malawi

10,925,238 populasi, 80% Kristen. AIDS mewabah di seluruh negeri. Islam bertumbuh dan dapat menimbulkan ancaman

© www.operationworld.org

Social Share Toolbar

Juga tersedia dalam: English Spanish