37. Memberi dengan Motivasi yang Salah

Bacalah Bagian Alkitab Ini
1 Timotius 6:3-5

Hafalkanlah Ayat Ini
2 Korintus 2:17 Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.

Diskusikanlah Hal Ini
Mana yang lebih penting – pemberian atau motif untuk memberi.

Lakukanlah dalam Minggu Ini
Pertimbangkanlah apakah orang atau tempat anda memberi menekan anda. 

Tugas Tertulis untuk Diploma
Dengan merujuk pada Alkitab dan pengalaman pribadi, tuliskan satu halaman mengapa kita harus dilindungi dari penampilan yang menekan. 

Renungkanlah Ayat Ini, Kata demi Kata
2 Petrus 2:1-3

 

Barangkali kesalahan terbesar dari motif memberi adalah memperlakukan hukum memberi dan menerima sebagai skema “Cara cepat menjadi kaya” di mana kita mencari berkat Allah untuk keinginan dan kepuasan kita sendiri. Orang-orang mendengar tentang berkat-berkat Allah dan kemakmuran dariNya tetapi jarang mendengar tentang tujuan dari berkat-berkat tersebut dan mencari berkat Allah sebagai tujuan akhir dari berkat itu sendiri.

Sudah pasti memberi sebanyak mungkin, percaya semampu anda dan terima sebanyak yang anda dapat, tetapi tolonglah jangan menahan atau menyimpan berkat sebanyak yang anda dapatkan. Allah mau memberkati anda sehingga anda dapat menjadi saluran berkat. Jika anda memberi dengan alasan hanya supaya anda dapat menerima kembali untuk anda belanjakan bagi diri sendiri, anda terlalu egois. Dengan segala cara carilah berkat-berkat Allah – tetapi juga dengan segala berusahalah agar berkat itu mengalir sebagaimana mestinya.

Motif berikutnya yang salah untuk memberi adalah pendapat yang mengatakan bahwa jika anda tidak memberi, Allah tidak akan senang dengan anda dan akan mengirimkan kemiskinan kepada anda dan di sini dengan memberi anda akan secara hurufiah membeli pengampunan dari Allah. (Satu contoh dari kejadian ini adalah seorang Pendeta berkata kepada jemaatnya bahwa jika mereka tidak memberikan perpuluhan, Allah akan mengirimkan penyakit kepada mereka dan mengambil 10% dari mereka dalam bentuk biaya dokter!)

Allah mengasihi kita tidak tergantung kepada tindakan-tindakan kita (khususnya bukan karena pemberian kita) dan kasih Allah tidak bertambah ketika kita mulai memberi kepadaNya. Telah dikatakan sebelumnya bahwa sementara berkat-berkat Allah dipersyaratkan atas pemberian kita, kasihNya secara total tidak bersyarat atas tindakan apapun dari bagian kita. Jika kehidupan menjadi lebih baik bagi pemberi yang dermawan dibandingkan dengan orang yang tidak memberi itu bukan karena Allah mengirim bencana kepada orang yang tidak memberi tetapi karena dengan tidak memberi kita mengeluarkan diri kita sendiri dari beroperasi dalam hukum Allah tentang memberi dan menerima.

Cara kita memberi perpuluhan dapat mengindikasikan bahwa kita dapat memberi dengan suatu motif yang salah. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kita harus benar-benar memperhatikan dan memastikan bahwa kita memberikan perpuluhan atas seluruh pendapatan kita dan secara teliti kita memastikan bahwa kita telah memberi 10%.

Meski demikian, jika kita memberikan perpuluhan kita hingga rupiah terakhir dan tidak memberikan lebih satu rupiahpun bukankah itu menunjukkan bahwa kita mencoba mendapatkan atau keluar dari batasan minimum yang diminta 10%. Mengapa tidak menyelesaikan perpuluhan anda hingga rupiah terakhir dan kemudian membulatkannya ke atas menjadi ribuan atau puluah ribu karena cara ini akan menunjukkan suatu kedermawanan dan kemauan rohani dan anda secara absolut meyakinkan diri anda bahwa anda melakukan lebih daripada permintaan yang minimal. 

Setelah melihat beberapa motif yang salah dalam memberi masih ada area lain yang memerlukan perhatian khusus yaitu area manipulasi dan pemberian dengan tekanan. Banyak hal yang perlu diungkapkan di area ini. Sejak Gereja lahir sudah ada orang-orang dalam kepemimpinan Kristen yang mengeksploitasi posisinya untuk mendapatkan keuntungan keuangan – memandang posisinya sebagai pekerjaan dan bukannya panggilan dan semata-mata untuk kesempatan untuk mencari keuntungan finansial. Menyedihkan bahwa banyak pemimpin Gereja yang menggunakan posisi mereka dan wewenang yang melekat terutama untuk mendapatkan uang dan kemakmuran rohani jemaat dan perluasan Kerajaan menjadi prioritas kedua. Pemimpin seperti itu hanya akan membatasi perluasan Kerajaan dan tidak layak dibayar dari persembahan umat Allah.

Sebagai contoh, Dalam 1 Timotius 6:5, Paulus memperingatkan Timotius tentang doktrin-doktrin yang salah yang diajarkan yang, 'tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan' Lebih lanjut dalam 2 Korintus 2:17 Paulus membandingkan pelayanannya dengan mereka yang berkhotbah untuk keuntungan keuangan belaka ketika dia berkata, 'Tidak seperti kebanyakan, kami tidak menjajakan firman Allah untuk keuntungan'. Lebih lanjut lagi, 2 Petrus 2:3 berbicara tentang nabi palsu ketika dia berkata, 'Dalam ketamakan mereka guru-guru ini akan mengeksploitasi kamu dengan cerita-cerita yang mereka buat sendiri'.

Banyak terdapat fakta bagaimana pemimpin Kristen menyalahgunakan posisi mereka untuk mengeksploitasi uang dari umat Allah. Dengan permohonan yang menekan, manipulasi, menonjolkan rasa bersalah dan membesar-besarkan, orang-orang dapat tertekan untuk memberi uang mereka padahal itu bukan kehendak Allah untuk mereka lakukan. Sudah pasti umat harus berhati-hati atas kesempatan untuk memberi dan kebutuhan-kebutuhan yang ada, namun sayangnya informasi ini dapat digunakan untuk memukul orang d iatas kepala untuk memaksa mereka memberi.

Alkitab memperingatkan dalam 2 Korintus 9:7 bahwa kita harus memberi dengan sukacita, bukan karena kita berada dalam perasaan terpaksa atau tertekan untuk melakukannya, 'Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.'

Mari kita melihat beberapa contoh manipulasi yang dilakukan terhadap umat Allah oleh para pemimpin Kristen. Andaikan seorang Pendeta tidak menghasilkan buah dan gerejanya kering dan keuangan Gereja dipakai hanya untuk menguatkan posisinya, mungkin ia akan memberi peringatan kepada jemaat bahwa jika mereka tidak memberikan perpuluhan mereka ke dalam Gereja maka Allah tidak akan memberkati mereka. Satu contoh lebih lanjut adalah seorang pemimpin Gereja yang telah menyampaikan “Firman Nubuatan” kepada salah seorang anggota jemaat bahwa ia harus memberikan sumbangan yang besar kepada dana Gereja atau kepada pemimpin itu sendiri. Jika seseorang berkata kepada anda 'Allah telah berfirman kepadaku untuk menyampaikan kepada kamu bahwa kamu harus memberikan sejumlah uang', maka hati-hatilah dan lakukanlah pengujian karena cara seperti itu mungkin adalah cara mereka untuk memanipulasi anda.

Sayangnya bahkan orang-orang dengan pelayanan televisi dapat juga menggunakan taktik-taktik yang sangat mengeksploitasi untuk menekan orang-orang supaya memberi. Sebagai contoh berminggu-minggu mereka mengudara dan berkata bahwa jika semua yang mendengar atau pemirsa tidak menyumbang untuk pelayanan mereka lebih dari biasanya mereka tidak akan mengudara lagi. Contoh lainnya lagi adalah jika anda mengirimkan Rp 500.000,- kepada kantor pusat pelayanan mereka, maka mereka akan berdoa supaya Allah memberikati keluarga Anda. Lebih lanjut mereka mengklaim bahwa ada “urapan khusus” dalam pelayanan mereka dan semua orang yang telah memberi kepada pelayanan mereka akan menerima suatu “berkat khusus”. Terakhir, mereka mungkin menyelenggarakan perjamuan bagi penyumbang mereka dan menginformasikan bahwa Allah menyingkapkan kepada mereka bahwa ada 5 orang di ruangan itu yang akan memberikan masing-masing Rp 10.000.000,- konsekuensinya, beberapa hadirin termanipulasi dan merasa bersalah jika tidak memberi, maka bahkan lebih dari lima orang akan mengeluarkan dompet atau menuliskan cek mereka pada perjamuan itu.

Barangkali yang paling menyedihkan adalah kebanyakan dari pemimpin Kristen yang menjengkelkan dan dengan buruk memanipulasi orang supaya memberi adalah bahwa mereka berhasil mengorbankan orang-orang yang jujur dan murni, yang seharusnya memberikan persembahannya bagi kebutuhan yang nyata di tengah umat Allah. Sementara Pendeta atau Penginjil sukses dengan manipulasi mereka, para misionaris kembali dari ladang misi dan berbagi cerita tentang kebutuhan yang besar sedangkan orang-orang telah mempersembahkan cek mereka ke tempat yang salah. Bukannya para janda, yatim piatu, yang sakit, yang terhilang dan kelompok yang belum terjangkau yang disiram dengan berkat-berkat itu, berkat itu dicuri oleh mereka yang tamak, manipulatif dan para pemimpin Kristen yang rakus. 

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa kita harus menjadi seorang pemberi. Malah kita harus cepat, dermawan, memberi dengan tangan terbuka dan sukacita dalam memberi. Namun kita harus sangat hati-hati menguji dan memastikan bahwa pemberian kita kepada seseorang, Gereja atau pelayanan lain adalah berdasarkan kehendak Allah dan bukan karena kita memberikan reaksi atas suatu tekanan apapun yang dikenakan kepada kita. Kolose 3:15 berkata, 'Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.' inilah nats Alkitab yang paling baik untuk diterapkan dalam memberi, kita membiarkan damai, bukan tekanan, memerintah dan menggerakkan serta memimpin hati kita ketika kita memberi. Jika setiap orang Kristen menerapkan aturan ini untuk pemberian mereka maka yang dimenangkan adalah orang miskin, orang sakit dan orang yang membutuhkan dan orang hilang, dan yang rugi adalah pemimpin Kristen yang tamak dan rakus yang menyalahgunakan posisi dan jabatan mereka.

 

Tutuplah dengan doa untuk kelompok orang yang belum terjangkau 

Berdoa bagi Eritrea

3,850,388 populasi, masing-masing. Kristen dan Muslim 47%. Dipulihkan dari perang dengan Ethiopia, ada beberapa keompok yang belum terjangkau.

© www.operationworld.org

Social Share Toolbar

Juga tersedia dalam: English Spanish